nanacchi: (Default)
[personal profile] nanacchi
And here another ansuta fanfic \o/ This time it features Sanae Konishi, my friend Kai's tenkousei-chan, with Izumi Sena. (lol seriously, I almost always type Sena when I have to type Sana and also the opposite *laughs*)

This is also a belated birthday present for Kai! Happy belated birthday sweetie! Thanks for being such a sweet friend!

Let's see... This one is yet another fic written in Indonesian. Please forgive me for the OOC-ness and stuff, you have been warned!

Hope you will enjoy!
=====
 
Sanae Konishi berlari-lari kecil, sedang mencari seseorang. Dia sudah mencari kemana-mana, namun hasilnya nihil. Taman, kantin, kelas... Orang itu tidak ada dimanapun, bahkan teman-temannya juga tidak tahu dia ada dimana. Ketika menaiki tangga, dia mendapat pencerahan. Kaki kecilnya ia bawa melompati anak tangga satu per satu yang membawanya ke atap sekolah. Benar saja, tepat ketika membuka pintu, dia menemukan orang yang sedari tadi ia cari-cari.

“Sena-senpai, ternyata kau disini ya. Aku mencarimu kemana-mana...”

“Hah? Oh Sana toh...” Dengan cuek sang pria berambut abu kembali fokus pada bekalnya. “Bukankah sudah kubilang kalau aku akan makan di atap kemarin? Ingat yang benar dong.”
 
Jika bukan karena otaknya yang masih cukup waras, Sana yakin tempat bekal yang ia pegang sudah mendarat dengan indahnya ke muka seniornya itu. Memangnya kapan dia bilang ingin makan di atap? Sehari-hari omongannya hanya ‘Yuu-kun ini’ ‘Yuu-kun itu’ kapan bilangnya? Sana manyun, namun tetap duduk di sebelah Sena seperti biasanya untuk makan siang bersama.
 
Sampai sekarang dirinya masih bingung mengapa dia rela menghabiskan waktunya bersama seorang Izumi Sena. Mulutnya kasar, banyak tingkah, egois, dan yang paling parah... terobsesi dengan Yuu-kun aka Yuuki Makoto! Begitu membahas soal Yuuki, mata Sena akan berubah berbinar-binar layaknya seorang fans yang sangat memuja idolanya, seperti gadis remaja yang dimabuk cinta.
 
Tak urung hari ini pun ada saja bahasan yang bisa ia bicarakan...
 
“Yuu-kun itu ya...” “Manis sekali kan! Ufufu Yuu-kun memang...” “Tau tidak, kemarin Yuu-kun...”
 
Jujur, dia gerah sekali mendengar setiap kalimat yang keluar dari mulut Sena ada saja kata ‘Yuu-kun’. Sana sengaja memasang tampang pokerface, berusaha tidak peduli dengan Sena dan fangirlingnya atas Yuuki. Tapi dalam hatinya dia sudah amat sangat lelah dengan sang kakak kelas dan ingin sekali menguburnya di dasar laut agar diam.
 
Namun dibalik kekesalan dan rasa lelah itu, Sana cemburu pada Yuuki.
 
Bagaimana pun juga, selama ini dia yang selalu berada di sisi Sena. Yah memang sih dia yang seenaknya mendekati Sena, namun lama kelamaan kehadiran Sana menjadi normal bagi Sena sendiri. Mungkin bisa dibilang, Sena sendiri merasa nyaman dengan keberadaan Sana tersebut. Meski namanya juga Sena, dia tidak memperlihatkannya sebagaimana orang normal memberikan perhatian pada orang. Mengganggu dan menyakiti Sana nampaknya menjadi pilihan. Dasar tidak normal...
 
“Hei, kamu mendengarkan aku gak sih?” Sena mencubit pipi Sana, yang sekarang mengaduh kesakitan. Anggota Knights tersebut tampak puas melihat produser perempuan itu mengusap pipinya yang merah karena cubitan sambil bersungut-sungut. “Kalo Yuu-kun sih, pasti akan selalu mendengarkan orang dengan penuh perhatian, gak kayak kamu.”
 
Wajah Sana kontan langsung berubah muram kembali. Yuuki lagi Yuuki lagi... Bisa tidak sih, dia tidak dibanding-bandingkan dengan teman sekelasnya itu? Yuuki ya Yuuki, dia ya dia.
 
“...henti...”

“Hum? Kamu bilang sesuatu?”

“BERHENTI MEMBANDINGKANKU DENGAN YUUKI-KUN!” Bentakan Sana yang tiba-tiba membuat Sena terdiam kaget. Sana sudah lelah, tidak tahan terus menerus dibandingkan dengan Yuuki. Dia ingin Sena melihatnya sebagai ‘Sana’, bukan sebagai pengganti Yuuki atau semacamnya. Dia capek. “Senpai selalu saja membandingkan aku dengan Yuuki-kun! Aku juga manusia, punya perasaan! Jangan lihat aku sebagai pengganti Yuuki-kun! Lihatlah aku sebagai aku! Sadarilah perasaanku!”

Sana berlari pergi dari tempat itu, meninggalkan Sena yang terdiam.

“Apaan sih cewek itu...”
 

=====

Semenjak insiden penuh luapan emosi kemarin, Sana sama sekali tidak punya keberanian untuk berhadapan dengan Sena lagi. Dirinya setengah menyesal tidak bisa mengendalikan emosinya saat itu, yang berujung dia malah jadi tidak bisa menatap wajah Sena. Lega sih, akhirnya unek-unek yang selama ini dia simpan keluar... Namun hal tersebut digantikan dengan sesuatu yang jauh lebih mengusik hatinya.
 
Bagaimana kalau karena kejadian kemarin, Sena malah jadi membencinya?! Tidak mau, Sana tidak mau itu sampai terjadi. Dia hanya ingin senpai-nya mengerti isi hatinya, bukan untuk dibenci. Sana ingin minta maaf, ingin meminta laki-laki itu untuk melupakan saja ocehannya yang kalo dipikir egois sekali. Tapi nyalinya tidak sepadan dengan keinginannya.
 
Jadilah seminggu itu, Sana mati-matian menghindar dari Izumi Sena. Baru melihat sosoknya saja dari kejauhan, dia sudah kabur menghindar. Bahkan pada saat jadwalnya membantu latihan Knights pun, dengan sepenuh hati dia memberi alasan ini-itu ketika Sena mengajaknya untuk berbicara. Keanehan ini tentu saja menarik perhatian anak-anak idol course, terutama member dari unit yang leadernya masih misteri itu.
 
“Jadi, Izumi-chan... Kamu dan Sana-chan ada masalah apa...?”

“Kenapa nanya padaku? Tanya saja pada si murid pindahan.”

Hari itu selesai latihan, Arashi akhirnya bertanya pada Sena, tidak tahan dengan keadaan tidak nyaman yang sedari tadi menyelimuti mereka selama latihan. Tsukasa dan Ritsu ia suruh menemani Sana ke kantin untuk membeli minuman dan camilan untuk mereka.

Mendengar jawaban Sena yang ogah-ogahan, Arashi tahu pastilah ada apa-apa. Dia tidak menyerah, terus membujuk-setengah-memaksa Sena untuk bercerita. Sena yang awalnya tidak mau bicara, akhirnya menceritakan juga apa yang terjadi seminggu yang lalu. Arashi terdiam sebentar setelah mendengarnya, kemudian menghela nafas panjang. Kenapa mereka berdua ini ada saja sih masalahnya...?

“Begitu saja marah... Padahal kan dia tahu aku memang suka Yuu-kun!” Seru Sena penuh emosi.

“Ya wajarlah dia marah...” Arashi menggelengkan kepalanya, tidak percaya temannya ternyata begitu bebal. Mungkin lain kali dia harus diberi kursus kilat untuk memahami hati wanita. “Coba bayangkan kalau kau sedang bersama Sana-chan, kemudian yang dia bicarakan seputar, katakanlah, Takamine-kun melulu... Bagaimana perasaanmu?”

“Kau tanya bagaimana? Ya tentu saja kesal! Berani sekali dia...”

“Nah, begitu juga Sana-chan. Aku yakin dia sebenarnya sudah lama memendam perasaannya. Malah hebat dia bisa mentolerirnya sedemikian lama. Kamu itu ya... gadis sebaik Sana-chan dilepas sukarela... Kalau tidak segera diselesaikan masalah ini, nanti keburu terlambat loh. Kau sendiri tahu kan maksudku?” Arashi menepuk bahu Sena. “Sekali-kali bersikaplah lembut padanya, hati perempuan itu rapuh loh... Kamu juga, jujur pada diri sendiri tak apa kan?”

Sena membuang muka, tidak mau melihat wajah Arashi. Temannya itu tertawa kecil, kemudian mengajak Tsukasa serta Ritsu, yang ternyata dari tadi mendengarkan dari ambang pintu, untuk memberi waktu pada Sena untuk berpikir.
 
 
“Kalau tidak segera diselesaikan masalah ini, nanti keburu terlambat loh. Kau sendiri tahu kan maksudku?”

Kalimat tersebut terngiang di kepala Sena. Dia tahu persis apa maksud Arashi. Kalau dia diam saja, Sana akan direbut oleh pria lain. Peduli amat... Dia juga bukan siapa-siapanya. Apa urusannya kalau ada laki-laki lain yang dekat dengan gadis itu? Memangnya dia pikirkan?

......Baiklah, dia akui perutnya bergejolak membayangkan Sana yang tersenyum gembira dengan orang lain selain dirinya. Tidak mau, dia tidak mau itu terjadi.

Adik kelas sialan, kenapa seenaknya memenuhi pikirannya?!

Seminggu tidak pernah bertegur sapa, Sena tahu dia kangen dengan suara perempuan itu. Dia ingin mendengarkan suaranya yang manis. Dia ingin menjahilinya, melihat wajah cemberut Sana yang entah mengapa tampak imut. Sejak kapan adik kelasnya menjadi sosok yang spesial, Sena tidak pernah tahu.

Yang pasti, besok dia harus berbicara dengan Sana.
 
=====

“Sanae Konishi, senpai-mu ini mau bicara denganmu, bisa? Kau sudah selesai piket kan? Tidak ada alasan untuk menolak.”
Sana menatap horor sosok Sena yang berdiri tak jauh darinya. Padahal ini bukan jadwal piketnya (tadi dia menggantikan Subaru yang harus buru-buru latihan), tidak memberi tahu siapa-siapa juga, tapi kenapa Sena tahu dia ada disini?! “M-Maaf, setelah ini aku masih harus membantu unit la−“

“Jangan bohong, hari ini kan Undead tidak ada kegiatan.”

Hiii bagaimana dia bisa tahu soal itu juga?! Senpai mengerikan!

Beberapa menit berlalu, dan keduanya sama sekali tidak bergerak. Suasana tegang menyelimuti daerah kebun belakang sekolah tersebut. Jantung Sana berdebar kencang, keringat dingin ia rasakan mengalir di punggungnya. Apakah sebentar lagi dia akan mendengar Sena berkata bahwa siswa tersebut membencinya? Tidak, hatinya belum (dan tidak akan pernah) siap!

“Sini mendekatlah, nggak akan kumarahi atau apa kok...”

Eh? Apa?

“Ba-barusan.... senpai bilang...apa...?”

“Mendekatlah... Aku ga bakal marah-marah atau apa kok, tenang saja...”

Rasa tidak percaya menyergap Sana. Ga salah? Ini benar kan Sena-senpai, bukan ada murid iseng yang menyamar jadi Sena? Suaranya pun lembut sekali, beda dari biasa. Ini bukan jebakan iseng senpai... kan...? Senyum yang menghiasi wajahnya seakan ada niatan tertentu di baliknya... Aduh kenapa dia jadi paranoid begini...?

Ragu-ragu, Sana berjalan mendekati Sena. Dia menutup mata, pasrah atas apa yang akan terjadi. Dibentak kek, dibenci kek, apapun akan ia terima. Sana benar-benar sudah berpikir yang terburuk.

Maka itu dia sama sekali tidak menyangka ini yang terjadi. Begitu dia masuk dalam jangkauan, Sena menarik dirinya dan langsung mendekap erat Sana dengan kedua tangannya.

“Sana...” Desahan Sena yang memanggil namanya menggelitik kulit Sana, yang masih terdiam kaku kaget setengah mati. Apa ini? Kenapa laki-laki itu tiba-tiba memeluk Sana? Otak Sana mendadak rusak tidak bisa dipakai berpikir.

“Eh umm, Sena-senpai...?” Pikirannya benar-benar sedang kacau, sehingga Sana hanya bisa memanggil namanya. Sena tak bergeming, masih memeluk Sana dengan erat. Barulah setelah dia puas, ia lepaskan pelukannya dan menatap wajah bengong Sana.

“Kau berutang penjelasan padaku atas sikapmu minggu lalu.” Dor, Sena tanpa ragu menembak kalimat tersebut pada Sana. Yang ditanya gelagapan, tidak tahu harus berkata apa. Sena ingin tertawa melihat wajah si murid pindahan yang tampak jelas sekali paniknya, tapi dengan baik dia tetap memasang wajah cool-nya. “Baiklah, ganti pertanyaan... Naru-kun sudah menjelaskan padaku mengapa kau marah. Ya baiklah, mungkin aku terlalu banyak membicarakan mengenai Yuu-kun... Tapi kenapa kamu yang marah dan sewot? Apa masalahmu?”

“Karena aku suka senpai dan tidak ingin dianggap pengganti Yuu-kun, apakah itu tidak cukup jelas?!” Sana spontan menjawab, gemas dengan senpai-nya itu. Saat tersadar apa yang telah ia katakana, siswi itu membalik badan dengan muka super merah. Lagi-lagi dia dikuasai emosi. Dia tidak berani membalikkan badannya menghadap Sena. “Lu-Lupakan saja itu—!”

Lagi-lagi Sana dibuat kaget ketika Sena memeluknya dari belakang. Kenapa senpai satu ini jadi hobi memeluk begini? Biasanya bahkan disentuh saja suka marah. Sana yakin jantungnya sebentar lagi akan meledak. Diberi cobaan seperti ini gimana ga jantungan? Eh, sebentar... Sena-senpai juga...? Karena dekatnya tubuh mereka, Sana dapat merasakan detak jantung Sena yang tidak kalah cepatnya dengan dirinya. Jadi, Sena-senpai itu...?

“Bagiku... kau sosok yang spesial... Sudah kubilangkan, selain Yuu-kun, cuma kamu yang bisa membuatku kepikiran terus seperti ini... Dan belakangan ini, bahkan yang ada dipikiranku lebih banyak mengenai Sana...” Sena mengingatkan. Dulu dia memang pernah berkata begitu, dan dia sendiri tidak terpikir hal itu akan berlanjut sejauh ini. “Kau pikir kenapa aku sering menjahilimu? Tentu saja karena aku senang melihat ekspresimu itu yang manis...”

“Ya mana aku tahu... Sena-senpai selalu menjahiliku, membuatku kesal... Mana aku tahu itu bentuk rasa sayang senpai yang tidak lazim, dasar tukang buli...” Gerutu Sana pelan. Sena hanya tersenyum mendengarnya. Pelukan ia lepas, dan kali ini dirinya menyuruh Sana untuk berbalik badan. Kini keduanya saling berhadapan.

“Sana... Aku juga menyukaimu...”

“Sena-senpai...”

“Izumi... Panggil aku Izumi... tanpa imbuhan... Hanya Izumi...”

“Ta-tapi...” Sena memandangnya dengan serius. Sana tidak tahan dengan pandangan tersebut dan menundukkan kepalanya. Dengan malu-malu, dia membuka mulutnya. “I-Izumi....senpai−“ Aduh kelepasan—Habisnya dia gugup sih!

Sunyi...

“Oh, ternyata kau itu memang bandel ya... Anak nakal perlu diberi hukuman” Sena tersenyum, namun matanya mengkhianati ekspresi wajahnya sendiri. Sana seakan diberi peringatan mara bahaya akan datang, mendadak panik. Apalagi ketika Sena mendekatkan wajahnya, alarm dalam pikirannya berbunyi nyaring.

“E-eh? S-SENPAI WAJAHMU TERLALU DEKAT! SEN−“
=====

Omake:
“...Izumi-chan, Sana-chan kamu apakan tadi sampai pingsan begitu...?”
 
“Cuma kujahilin sedikit kok. Ternyata reaksinya cukup asyik juga.”

"Kamu itu ya..."

Profile

nanacchi: (Default)Nana || Niina

August 2016

S M T W T F S
 123456
78910111213
14151617181920
2122 2324252627
28293031   

Style Credit

Expand Cut Tags

No cut tags
Page generated Jul. 24th, 2017 02:37 am
Powered by Dreamwidth Studios